Hukum Umroh Kredit yang Harus Diketahui, Ini Penjelasannya!

Hukum umroh kredit atau hutang untuk pergi umroh atau haji, bolehkah dilakukan? Pergi menunaikan ibadah haji atau umroh dengan dana yang berasal dari berhutang terjadi perdebatan di kalangan ulama. Ada yang membolehkan hutang, tetapi ada yang berpendapat harus menghindari hutang untuk haji maupun umroh ini. Bagi umat Islam, menunaikan haji hukumnya wajib.

Baca juga: Hukum Menunaikan Haji dan Umrah Dengan Pembayaran Melalui Kartu Kredit

Umroh Termasuk Sunah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“… Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah, adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana…” (Q.S. Ali Imran : 97).

Sedangkan untuk umroh disepakati sunah. Tapi kedudukannya adalah sunah muakad atau sunah yang diutamakan karena mendekati wajib.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 196 :

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah……” (QS. Al-Baqarah ayat 196).

Baca juga: Hukum Hutang untuk Umroh, Bolehkah?

hukum umroh kredit
hukum umroh kredit

Hukum Umroh Kredit

Syaikh Ibnu Al-Utsaimin rahimhahullah dalam salah satu kajiannya, mengatakan bahwa seseorang tidak boleh mengambil hutang untuk menunaikan haji atau umrah jika pelunasannya dilakukan dengan cara diambilkan dari gaji bulanan untuk angsuran. ‘Menurut pandangan saya, dia tidak perlu berbuat demikian, karena seseorang tidak wajib menunaikan haji jika dia memiliki hutang, apalagi dia sengaja berhutang untuk menunaikan haji. Sebaiknya, kata Syaikh Utsaimin, jangan berhutang untuk menunaikan haji. Karena menunaikan haji dalam kondisi tersebut bukan merupakan kewajiban baginya. Karenanya dia seharusnya menerima keringanan Allah, keluasan dan kasih sayangnya,” tegas Syekh Utsaimin.

Baca juga: Paket Umrah Retali Ibadah Sesuai Syariat dengan Izin Resmi

Ustad Abdul Somad mengatakan, jika seseorang memberi jaminan sesuatu yang dapat digunakan untuk membayar hutangnya untuk haji dan umrah, maka boleh meminjam di lembaga keuangan syariah. “Misalnya, yang meminjam itu punya jaminan jika kebunnya panen, sawahnya panen, dan pinjamnya di bank syariah, maka boleh pinjam,” kata ustad yang akrab dipanggil UAS itu dalam salah satu tausiyahnya di youtube.

Sedangkan menurut ulama NU, KH Mahbub Maafi menukil dari kitab kitab Mawahib Al Jalil Syarah Al Mukhtashar Al Khalil, mengatakan bahwa jika ada seseorang tidak bisa sampai ke Makkah kecuali dengan cara berhutang, sedangkan ia sebenarnya tidak mampu membayarnya, maka tidak wajib haji atau umrah. Ini adalah pandangan yang telah disepakati para ulama. Berbeda ketika orang tersebut mampu membayar utangnya, maka ia dikategorikan sebagai orang yang mampu. Karenanya ia wajib melaksanakan haji meskipun dengan cara berhutang. Sebab, kemampuan dia untuk membayar hutang menyebabkan ia dianggap sebagai orang yang sudah istitha’ah memiliki kemampuan.

Hukum Umroh Kredit pada Orang Mampu dan Tidak Mampu

Bagi yang belum memiliki kemampuan, tidak perlu memaksakan diri berhutang. Karena Allah tidak membebani hamba-Nya di luar kemampuan.

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا ۚ سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

“Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. At-Thalaq : 7).

Terlebih hutang bukanlah perkara sederhana. Sampai seorang yang terbunuh di medan jihad, bisa terhalangi masuk surga disebabkan hutang yang belum ia lunasi.

Dari Abdullah bin Amr bin Al-‘ash radhiyallahu’anhuma, dari Nabi shallallahualaihi wa sallam beliau bersabda,

يغفر للشهيد كل ذنب إلا الدين

“Seorang yang mati syahid diampuni seluruh dosanya kecuali hutang yang belum ia bayar.” (HR. Muslim).

Baca juga: Umrah, Haji Prioritas & Wisata Halal dengan Harga Bersahabat!

Al-Hattob rahimahullah menerangkan dalam kitabnya Mawāhib Al-Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil,

Siapa yang tidak bisa sampai ke kota Makkah (untuk menunaikan haji atau umrah) kecuali dengan berhutang, sementara ia tidak memiliki harapan dapat melunasi hutangnya, maka ia tidak diwajibkan untuk berhaji. Karena ia tidak mampu. Ini sudah menjadi kesepakatan para ulama.

Adapun orang yang memiliki harapan dapat melunasi hutangnya, maka ia teranggap orang yang mampu. Dengan syarat, dana harapan untuk melunasi hutang tersebut, cukup untuk menutup biaya menuju kota Makkah.