Hukum Umrah Berkali Kali Apakah Diperbolehkan?

Kita tahu bahwa jutaan umat muslim dari seluruh dunia datang ke Mekah setiap tahunnya untuk melakukan Umrah. Namun sebagian dari kita mungkin masih bertanya-tanya tentang hukum Umrah berkali kali. Untuk menjawabnya, silahkan simak artikel ini hingga tuntas.

Pada dasarnya, dalam Islam melakukan suatu ibadah harus dilandasi dengan dua syarat. Syarat yang pertama adalah rasa ikhlas, sedang syarat yang kedua adalah harus diikuti dengan mutaba’ah atau mengikuti yang dicontohkan Rasulullah SAW. 

Nah, sebagai suatu ibadah yang disyariatkan, Umrah pun harus mengikuti dua syarat tersebut, selain tentu harus sesuai dengan rambu-rambu syariat. Memperbanyak amalan dan ibadah adalah sebuah hal yang positif, namun tetap wajib dilaksanakan sesuai dengan syariat.

Hukum Umrah Berkali Kali

Berapa Kali Nabi Muhammad SAW Melakukan Umrah?

Nabi Muhammad sepanjang hidupnya melakukan Umrah sebanyak empat kali. Dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan umrah sebanyak empat kali. (Yaitu) umrah Hudaibiyah, umrah Qadha`, umrah ketiga dari Ji’ranah, dan keempat (umrah) yang bersamaan dengan pelaksanaan haji beliau.” (HR. Tirmidzi, no 816 dan dan Ibnu Majah no. 2450)

Pada setiap Umrah, Nabi Muhammad SAW mengerjakannya dengan perjalanan tersendiri. Tiga umrah secara tersendiri, dan sekali Umrah yang dilakukan bersamaan dengan haji.

  • Pertama, umrah Hudhaibiyah tahun 6 H. 
  • Yang kedua dikenal sebagai Umrah Qadhiyyah atau qadha yang dilakukan pada tahun 7 H. 
  • Yang ketiga yakni Umrah Ji’ranah yang dilakukan pada tahun 8 H. 
  • Yang terakhir, saat beliau mengerjakan Haji Wada’

Hukum Umrah Berkali kali

Yang patut dicatat empat umrah yang dikerjakan Nabi dikerjakan dengan perjalanan tersendiri. Jadi hukum Umrah berkali kali disini diartikan sebagai Umrah yang dilakukan berkali-kali dalam satu perjalanan. 

Untuk hal ini, ada beberapa pendapat berbeda. Namun pendapat terkuat mengatakan bahwa melaksanakan umroh berkali-kali dalam satu kali perjalanan tidak disyariatkan. Beberapa alasan dari pendapat tersebut adalah :

  • Tidak ada satu pun riwayat yang memberikan keterangan dari salah satu sahabat yang menyertai Nabi dalam Haji Wada’ yang beranjak keluar menuju tanah yang halal dengan tujuan umrah, baik setelah atau sebelum melaksanakan ibadah Haji. Mereka juga tidak pergi ke Hudhaibiyah, Tan’im, maupun Ji’ranah untuk tujuan Umrah.
  • Umrah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW yang dimulai dari Ji’ranah tidak bisa dijadikan dasar hukum Umrah berkali kali. Sebab, awalnya Nabi masuk kota Mekah pada 8H untuk menaklukannya dalam keadaan halal.
  • Nabi Muhammad SAW beserta para sahabat, kecuali Aisyah, tidak pernah melakukan ibadah Umrah dari Mekah, meski Mekah telah ditaklukkan. Padahal thawaf di Ka’bah sudah disyariatkan sejak Nabi Muhammad SAW menjadi utusan Allah. Mereka melakukan thawaf tanpa melakukan Umrah terlebih dahulu.
  • Dalam penaklukan kota Mekah, Nabi Muhammad SAW berada di Mekah selama 19 hari namun tak ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau meninggalkan daerah halal untuk melangsungkan ibadah Umrah dari sana. 

Berdasarkan alasan tersebut, dapat dikatakan bahwa thawaf adalah hal yang lebih utama. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan bahwa bagi orang yang ada di Mekah, Thawaf mengelilingi Ka’bag lebih utama daripada Umrah.

Nah, itulah hukum Umrah berkali kali. Untuk Anda yang ingin pergi beribadah Umrah, pastikan Anda memilih travel Umrah yang berkualitas dan terpercaya seperti Retali. Hubungi Retali melalui Instagram @retaliumrah.id dan jadwalkan keberangkatan Anda sekarang juga.