Badal Umroh Menurut Ulama Syafi’iyah

Badal adalah tindakan melakukan haji atas nama seseorang yang tidak dapat melakukannya sendiri. Tidak dapat melakukan karena berbagai alasan, termasuk orang yang meninggal, cacat kronis, atau sakit. Jika Haji badal telah banyak diketahui dalilnya, namun adakah dalil untuk badal Umroh?

Umrah adalah ibadah yang dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan maksud untuk meraih berkah, rahmat, dan ampunan dari Yang Maha Kuasa serta mensucikan jiwa dari segala dosa. Ada banyak kebajikan dan pahala yang terkait dengan melakukan umrah demi Allah SWT.

Menurut riwayat, Rasulullah SAW melaksanakan ibadah ini sebanyak empat kali selama hidupnya. Umrah adalah bentuk ibadah khusus yang menghubungkan orang beriman secara langsung dengan Allah SWT, memberi mereka kesempatan untuk bertaubat atas dosa-dosa mereka dan menjadi Muslim yang lebih baik.

Karena banyaknya keutamaan ibadah umrah, timbul pertanyaan bagaimanakan hukum dari badah umrah? Temukan jawabannya pada penjelasan di bawah ini.

badal Umroh

Badal Umroh Menurut Ulama Syafi’iyah

Pendapat ulama Syafi’iyah tentang badal Umrah adalah diperbolehkan. Seseorang dapat menggantikan pelaksanaan umrah jika yang digantikan adalah orang yang telah meninggal maupun orang yang tak lagi memiliki kemampuan fisik untuk dapat menunaikannya.

Bagi siapa saja yang telah memiliki kemampuan dan kewajiban, namun tidak melaksanakannya hingga meninggal dunia, maka harta peninggalannya dapat digunakan untuk menunaikan badal Umroh. Meskipun yang melaksanakan tak memiliki hubungan kerabat, tetap dianggap sah dan meskipun tanpa izinnya. Sebagaimna apabila melunasi utang yang tetap sah meski tanpa izinnya.

Lebih lanjut para ulama Syafi’iyah juga mengemukakan bahwa menunaikan umrah yang sunnah dapat digantikan apabila tak mampu menunaikannya sendiri sebagaimana boleh pula menunaikannya untuk orang yang meninggal.

Syarat Badal Umroh

Dari berbagai sumber, beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam melaksanakan badal umrah, antara lain:

  • Badal umrah hanya dilakukan untuk orang yang tak mampu secara fisik. Jadi menggantikan ibadah umrah untuk seseorang yang memiliki kemampuan fisik untuk melaksanakan sendiri adalah tidak sah.
  • Selain tak mampu secara fisik, badal umrah hanya diperuntukan bagi orang sakit yang kesembuhannya tak dapat diharapkan, atau bagi orang yang telah meninggal dunia.
  • Tidak diperbolehkan membadalkan umrah untuk orang yang tak mampu dalam hal finansial. Ini karena orang yang tak mampu secara finansial tidak diwajibkan melaksanakan umrah.
  • Seperti badal Haji, seseorang yang hendak membadalkan umrah haruslah orang yang sebelumnya telah melaksanakan ibadah umrah.
  • Seorang pria diperbolehkan untuk membadalkan umrah wanita, dan sebaliknya.
  • Tidak diperbolehkan membadalkan umrah lebih dari satu orang dalam sekali umrah. Dalam satu kali perjalanan umrah, seseorang hanya dapat membadalkan satu orang.

Bisakah Melakukan Umrah untuk Ayah dan Ibu?

Jika orang tua Anda menderita suatau penyakit kronis atau lemah secara fisik hingga tak mampu melakukan umrah atau telah meninggal dunia, maka dengan keadaan tersebut Anda diperbolehkan melaksanakan umrah atas nama orang tua Anda.

Meski begitu, seperti dijelaskan di atas, ibadah haji hanya dapat dilakukan atas nama satu orang pada satu waktu. Ini berarti Anda tidak dapat melakukan umrah untuk Ayah dan Ibu sekaligus dalam sekali waktu. Sebaliknya, Anda harus melakukan dua umrah untuk Ayah dan Ibu dalam waktu yang berbeda.

Wujudkan perjalanan ibadah ke tanah suci bersama umrah travel terpercaya Retali. Hubungi Retali melalui website, ikuti pula @retaliumrah.id di Instagram untuk mendapatkan berbagai informasi menarik seputar Haji dan Umrah.